Selasa, 07 April 2015

TUGAS 1
PERUSAHAAN TRANS CORP

Trans TV

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Trans TV
PT Televisi Transformasi Indonesia
TRANS TV.png
Diluncurkan 15 Desember 2001
Pemilik Trans Media
Tokoh penting Atiek Nur Wahyuni
Ishadi Soetopo Kartosapoetro
Slogan Milik Kita Bersama
Kantor pusat Jakarta, Indonesia
Saluran saudara Trans7 (2006-sekarang)
CNN Indonesia (2014-sekarang)
Situs web www.transtv.co.id
Ketersediaan
Satelit
Indovision 87
TransVision 145
Kabel
First Media 9
IPTV
Groovia TV 104
Trans TV adalah sebuah stasiun televisi swasta di Indonesia mulai secara terrestrial area di Jakarta, yang dimiliki oleh konglomerat Chairul Tanjung. Dengan moto "Milik Kita Bersama", konsep tayang stasiun ini tidak banyak berbeda dengan stasiun swasta lainnya. Trans TV adalah anak perusahaan PT Trans Corporation. Kantor Pusat stasiun ini berada di Gedung Trans TV, Jalan Kapten Pierre Tendean, Jakarta Selatan. Direktur Utama Trans TV saat ini adalah Atiek Nur Wahyuni yang juga merupakan Direktur Utama Trans7.
Kantor Trans Media di Jakarta.
Trans TV memperoleh izin siaran pada tanggal 1 Agustus 1998. Trans TV mulai resmi disiarkan pada 10 November 2001 namun masih terhitung siaran percobaan, Trans TV sudah membangun Stasiun Relai TV-nya di Jakarta dan Bandung. Siaran percobaan dimulai dari seorang presenter yang menyapa pemirsa pukul 17.51 WIB. Trans TV kemudian pertama mengudara dan diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri sejak tanggal 15 Desember 2001 sekitar pukul 19.00 WIB, Trans TV memulai siaran secara resmi.[1]

Acara

Saat Ini

Yang Pernah Ditayangkan

Sebelum 6 Maret 2013

Sebelum 31 Oktober 2012

Penyiar

Penyiar saat ini

Mantan penyiar

Direksi

Daftar direktur utama

No. Nama Awal jabatan Akhir jabatan
1 Ishadi Soetopo Kartosapoetro 1999 2008
2 Wishnutama 2008 2012
3 Chairul Tanjung 2012 2013
4 Atiek Nur Wahyuni 2013 sekarang

Direksi saat ini

Nama Jabatan
Atiek Nur Wahyuni Direktur Utama
Atiek Nur Wahyuni Direktur Penjualan dan Pemasaran
Warnedy Direktur Keuangan dan Sumber Daya
Achmad Ferizqo Irwan Direktur Programming

SEJARAH
Trans TV resmi mengudara pada 15 Desember 2001. Seluruh saham Trans TV dikuasai pengusaha Chairul Tanjung lewat kepemilikan 99,99 persen PT Para Inti Investindo (pada tahun 2006, diganti namanya menjadi PT Trans Corpora, atau Trans Corp), dan sisanya PT Para Investindo. Keduanya dari kelompok bisnis Grup Para milik Tanjung. Lahir di era reformasi, Trans TV tidak memiliki stigma negatif warisan rezim Soeharto. Perusahaan grup Para tidak ada yang masuk BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional), dan tidak pernah kena kasus kriminal seperti sebagian besar konglomerat era Orde Baru.

Lahir di Jakarta tahun 1962, sejak kuliah Tanjung sudah berbisnis. Sepuluh tahun kemudian dia punya kelompok usaha bernama Para Group. Awalnya, kelompok ini mendirikan usaha ekspor sepatu anak-anak. Modal sebesar Rp 150 juta berasal dari Bank Exim. Tanjung mengembangkan bisnisnya lewat Bandung Supermall. Dia juga menguasai Bank Mega yang dibeli pada 1996 dari kelompok Bapindo. Bank Mega waktu itu dalam keadaan sakit-sakitan.


Setelah diambil Tanjung, Bank Mega pelan-pelan mengalami perbaikan. Pada 28 Maret 2001, bank ini berhasil mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Jakarta seharga Rp 1.125 per lembar. Dua tahun kemudian, kepada Warta Ekonomi, Chairul Tanjung mengatakan, Bank Mega menjadi sumber dana terbesar bagi Grup Para. Kontribusinya sekitar 40 persen.

Kontribusi Trans TV juga tidak kecil. Sekurang-kurangnya Trans TV sudah mengalami break event point by operation pada tahun kedua, sekitar Mei 2003. Artinya, sudah tak perlu kucuran dana lagi dari pemilik. Titik balik keberhasilan Trans TV berlangsung sejak kuartal satu 2002. Menurut survei Nielsen Media Research, saat itu Trans TV berada di peringkat kelima sebagai peraih iklan terbanyak dari 10 stasiun televisi. Nominalnya sebesar Rp 149,2 milyar.

Berbekal kesuksesan kinerja, dan menyodok ke urutan nomor dua pada akhir 2005, Trans TV lewat induk perusahaannya Trans Corpora pada Juni 2006 membuat kejutan, dengan membuat MoU untuk membeli saham mayoritas (55 persen) milik TV7. Menurut Chairul Tanjung, pihaknya ingin membentuk aliansi yang seluas-luasnya dengan Kelompok Kompas Gramedia (KKG) yang memiliki TV7. Selain pertimbangan bisnis, ada kesamaan visi antara Trans TV dan TV7, yaitu sama-sama merah-putih.

Grup Para juga punya hubungan baik dengan Anthoni Salim. Grup Salim pernah “berutang budi” ketika Chairul Tanjung ikut menyelamatkan Bank Central Asia, yang waktu itu didera krisis keuangan. Waktu itu Bank Mega tidak ikut-ikutan menarik uang dari BCA, tetapi malah menambah. Chairul Tanjung membantu BCA sekitar Rp 1,3 triliun karena yakin BCA akan selamat. Indofood milik Grup Salim juga ia bantu Rp 50 miliar pada 1998. Dengan Grup Salim, Grup Para bermitra dalam menggarap proyek di Batam dan Singapura. Dengan Sinar Mas Group, Grup Para juga bermitra dalam asuransi jiwa Mega Life.

Di Singapura, Grup Para mengakuisisi satu perusahaan public bernama Asia Medic, yang bergerak di bidang health care. Grup Para membuat perusahaan patungan bernama Gladifora. Sedangkan di Batam, Grup Para membuat perusahaan patungan di bidang property, dan sudah mendapat konsesi lahan sekitar 300 hektare di lokasi strategis, untuk membuat entertainment center dan permukiman.

Kemitraan Strategis TV7 - TransTV

Perkembangan berikutnya, Trans Corp, perusahaan induk stasiun Trans TV, milik pengusaha Chairul Tanjung akhirnya memutuskan untuk menaruh sahamnya sebesar 49 persen di stasiun TV7. Sebanyak 51 persen saham dikuasai TV7.

Nota kesepakatan strategic partnership antara Trans TV dan TV7 dilakukan di Gedung Bank Mega (bagian dari Grup Para), di Jl. Kapt. Tendean, Jakarta, Jumat, 4 Agustus 2006. Penandatanganan dilakukan Chairman Trans Corp., Chairul Tanjung dan Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia (KKG) Jakob Oetama.

"Kepemilikan saham di TV7 ada perubahan, tapi perubahan itu tetap sesuai dengan ketentuan yang berlaku selama ini. Saham Trans Corp di TV7 sebesar 49 persen," ungkap Chairul Tandjung kepada pers, didamping Jakob Oetama.
Dikatakan Chairul, harapan dari kerjasama antara dua media televisi ini menjadi momentum yang baik untuk melakukan sinergi dalam membangun kemajuan bangsa, khususnya melalui media televisi. "Strategi yang diharapkan dari kerjasama ini menjadikan TV7 ke arah yang lebih baik," ujarnya.

Tiga fungsi media televisi, yakni sebagai media informasi, edukasi dan entertainment, lanjut Chairul, akan menjadi dasar pengembangan TV7 ke depan. "Informasi dan proses edukasi yang diberikan akan dibangun dengan konsep entertainment," katanya.

Sementara Jakob Oetama menyambut baik kerja sama tersebut. Menurutnya sinergi antara dua media televisi ini diharapkan akan memberi hasil yang terbaik dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat. "Dengan sinergi ini diharapkan media televisi akan lebih mampu memenuhi peran pokoknya, baik itu sebagai penyampai informasi, edukasi, entertainment yang mencerahkan," ujarnya.

Dalam penyajiannya ke depan, kata Jakob, media televisi diharapkan bisa memberikan hiburan yang sehat, mendidik, dan berperan serta secara maksimal dalam membangun bangsa.
Masuknya Trans TV ke TV7 tentu saja membawa sejumlah perubahan, baik dari segi manajemen dan konsep yang ditawarkan.

Hanya saja, Chairul menjamin acara TV7 dengan Trans TV tidak akan saling berkompetisi. "Acara yang sudah established di Trans TV bisa diputar di TV7, begitu juga sebaliknya," ujarnya. Toh, Chairul meyakini bahwa masing-masing TV, baik itu TV7 ataupun Trans TV pada saatnya nanti akan tersegmentasi dan punya pasar sendiri-sendiri. "Tidak akan bersinggungan. Justru nantinya audience seperti ini akan membuat pangsa pasar jadi semakin besar," katanya.

Tak hanya dari segi content, masuknya Trans TV membawa perubahan pada manajemen di TV7. Wakil Direktur Utama Trans TV, Wishnutama menempati posisi Direktur Utama TV7, yang sebelumnya dijabat Lanny Rahardja. Wakil Direktur ditempati Atiek Nur Wahyuni, yang masih menjabat sebagai Director Sales & Marketing Trans TV. Sementara Direktur Keuangan dijabat Susi (Direktur keuangan TV7).

Sedikit Tentang TV7

Karena TV7 kini telah menjadi “saudara” Trans TV, ada baiknya juga jika sedikit latar belakang tentang TV7 diceritakan. TV7 berdiri di lingkungan Kelompok Kompas Gramedia (KKG), kelompok bisnis pimpinan Jakob Oetama, yang dikenal sebagai pemain kuat di sektor media. Dalam kelompok tersebut ada juga bisnis perhotelan, perdagangan, dan jaringan toko buku Gramedia. TV7 tak secara eksplisit menyebut Kelompok Kompas Gramedia selaku pemiliknya. Dalam kopian anggaran dasar televisi ini, ada enam pihak pemiliknya. Tiga perorangan, tiga perusahaan.

Tiga pemegang saham perorangannya adalah Sukoyo (3.000 saham atau 1%), Yongky Sutanto (10.500 saham atau 3,5%), dan Lanny Irawati Lesmana (5,5%). Tiga nama perusahaan pemilik TV7 adalah PT Teletransmedia (48%), PT Transito Tatamedia (38,7%), dan PT Duta Panca Pesona (3,3%). Tampaknya, pemilik saham mayoritas di balik sejumlah perusahaan ini adalah Jakob Oetama.

Lanny Irawati Lesmana punya hubungan darah dengan Karna Brata Lesmana, presiden direktur PT Inter Delta Tbk, distributor peralatan fotografi produksi Canon dan Kodak Imaging Group. Di TV7, dia juga punya ketersinggungan dengan PT Duta Panca Pesona. Sementara Sukoyo seorang pengusaha tambak udang asal Jawa Timur.

Awalnya, dialah pemegang izin siaran PT Duta Visual Nusantara, perusahaan TV7. Kelompok Kompas Gramedia lantas membelinya dan mengubah namanya jadi PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh. Sukoyo sendiri lantas bikin stasiun televisi lokal Jakarta bernama Space Toon.

Karena kinerjanya yang tak juga membaik setelah sekian tahun beroperasi, TV7 melepas 49% sahamnya untuk dibeli oleh Trans Corp (Grup Para), yang sudah memiliki Trans TV. Sebetulnya, TV7 sudah dilirik untuk dibeli oleh sejumlah TV nasional dan asing, seperti Indosiar, SCTV dan Star TV. Namun tidak ada yang serius menindaklanjuti. Berbeda dengan Trans TV yang langsung bertindak cepat. Selain itu, TV7 merasa lebih nyaman bekerjasama dengan perusahaan nasional ketimbang asing, sehingga mereka menolak Star TV.

Crew News TransTV “Hijrah” ke TV7

Sebagai tindak lanjut, setelah Trans Corp membeli saham TV7, tentu pembenahan manajemen TV7 perlu dilakukan untuk meningkatkan kinerjanya, khususnya di bagian News. Untuk itu, sejumlah crew Divisi News TransTV telah dipindahkan ke News TV7 untuk memperkuat News TV7. Nama-nama yang pindah itu diumumkan di rapat News Trans TV, Rabu, 23 Agustus 2006.

Daftar crew yang pindah tersebut adalah:

Titin Rosmasari
(menjadi Kepala Departemen Buletin & Current Affairs)

Sulaeman Sakib
(menjadi Kepala Departemen Magazine & Documentary)

Pracoyo Wiryoutomo (Executive Producer)
Teguh Satyawan Usis (Executive Producer)

Producer:
Amatul Rayani
Gatut Mukti
Mufthi Akbar
Nicky Laoh

Associate Producer:
Asri Rasma
Ardina Yunita
Fajar Ridwan
Ilham Jauhari
M. Affan Mantu
Nurul Qoyimah
Tunggul Bayu Aji
Yulius Suman

Kepala Divisi News Trans TV, Iwan Sudirwan, menjadi General Manager di News TV7, tanpa melepas jabatannya di Trans TV.

Budaya Perusahaan TransCorp dan TVRI

TRANSCORP
TRANS Corp adalah salah satu perusahaan media terbesar di Indonesia. TRANS corp memiliki 2 stasiun telivisi yang dinaunginya, yaitu TRANS TV dan TRANS 7, TRANS TV membuat debut pada tanggal 15 Desember 2001 di Jakarta. Pada Agustus 2006, TRANS Corp mengakuisisi TV7 yang sekarang berubah menjadi TRANS7.
Tanpa diragukan lagi, kedua televise ini merupakan saluran yang paling banyak ditonton di Indonesia berdasarkan rating TV dan saham. Kedua saluran tersebut juga menjadi trendsetter dalam industri media.
Memperoleh ijin siaran pada Oktober 1998, setelah dinyatakan lulus dari uji kelayakan yang dilakukan tim antar departemen pemerintah, kemudian mulai siaran resmi secara komersial pada 15 Desember 2001. TRANS TV selalu menayangkan tampilan, gaya, serta program yang inovatif, berbeda, dan kreatif sehingga menjadi trendsetter di industry pertelevisian. TRANS TV bersama TRANS7 dan Detikcom di bawah payung TRANSMEDIA,  diharapkan dapat menjadi televise terdepan di Indonesia, dengan program-program in-house productions yang bersifat informatif,  kreatif, dan inovatif.
Perubahan logo pada TRANSCORP menegaskan bahwa TRANSMEDIA ini menyuarakan sebuah semangat dan perjuangan untuk mencapai keunggulan yang tiada banding mulai dari sekarang hingga masa mendatang.
Pada dasarnya TRANS CORP memiliki budaya berbeda dengan televisi-televisi yang lainnya. Dimana TRANSCORP memiliki budaya yang karyawan atau tenaga kerja yang masih muda dan memiliki kreatifitas tinggi.
Program-program yang ditayangkan juga sangat variatif, dan menjadi trendsetter di industri media, tenaga kerja yang muda tersebut dituntut untuk kejar tayang dan sekreatif mungkin, kerja yang dikejar waktu dimana perusahaan swasta lebih melihat kualitas program tayangan yang dirasa cukup menarik.
TRANSCORP sendiri memiliki CSR (Corporate Social Responsibilty) yang dimana sebagai wujud kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan di sekitarnya serta tanah air, yang telah berusaha melakukan beberapa kegiatan-kegiatan sosial yang disalurkan oleh Unit Marketing Public Relations dan Unit Community Development.
Salah satu wujud kegiatan social tersebut adalah memberikan bantuan perbaikan dan pembangunan sarana fisik termasuk pendirian tempat ibadah di beberapa kota, pendirian taman bermain dan perpustakaan.
Tanggung jawab TRANS TV terhadap tanah air telah diwujudkan dengan membantu Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu dalam membangun asrama dan sekolah “Selamatkan Tunas Bangsa” untuk usia SD di lokasi Pesantren Tengku Cik Oemar Diyan, Indrapuri, Aceh Besar pada tahun 2005.
Contohnya seperti ketika terjadi bencana gempa dan tsunami, TRANS TV membangun Rumah Anak Madani (RAM) sebagai wisma bagi anak-anak korban gempa dan tsunami yang terletak di Jalan Raya Veteran, Kebun Helvitia, Pasar 7, PTPN II – Medan, Sumatera Utara. Pada 5 Februari 2005 Wakil Presiden RI, Bapak Jusuf Kalla melakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan RAM, yang kemudian diresmikan pada bulan Desember 2005 dan telah menampung lebih dari 300 anak.
Pembangunan RAM tersebut merupakan hasil sumbangan pemirsa TRANS TV melalui program “Dompet Amal TRANS TV”. Selain itu, total dana sebesar Rp 5 miliar tersebut juga berasal dari sumbangan beberapa donatur, baik berupa uang maupun bahan bangunan. Selama pembangunan RAM, TRANS TV menyalurkan lebih dari 200 ton bantuan pemirsa berupa bahan makanan dan pakaian layak pakai ke Aceh.
Program CSR TRANS TV tidak hanya terbatas pada bantuan musibah dan bencana alam, tetapi juga meliputi program reguler. Setiap bulan puasa departemen Marketing Public Relations secara rutin mengadakan acara “Buka Puasa bersama Anak Yatim Piatu”, di mana beberapa Panti Asuhan akan diundang ke TRANS TV secara bergantian setiap tahunnya. Dana hajatan tersebut berasal dari sumbangan zakat para karyawan TRANS TV yang dikumpulkan selama bulan Ramadhan.
Program CSR regular lainnya yaitu kegiatan “Donor Darah” yang diadakan setiap tiga bulan sekali. Bekerja sama dengan tim PMI, TRANS TV mengaja kseluruh karyawan untuk secara rutin menyumbangkan darahnya demi kesehatan dan kepedulian sosial.
Sejak awal, pembangunan TRANS TV dirancang untuk bisa beroperasi menggunakan teknologi digital penuh, mulai dari tahap praproduksi hingga tahap paska produksi dan siaran on air. Tetapi karena system penyiaran di Indonesia masih menggunakan sistem analog, maka output yang bersifat digital akan diubah menjadi analog. Walaupun demikian, pemirsa TRANS TV akan menikmati tayangan audio visual yang lebih jernih dan tajam. Kelak jika system penyiaran di Indonesia sudah beralih ke sistem digital, TRANS TV hanya perlu memodifikasi pemancar-pemancarnya saja.
Selain output yang lebih baik, teknologi digital juga menjadikan proses kerja dapat berjalan lebih efisien dan efektif. Peran kaset (video tape) nyaris hilang, karena semua materi produksi mengalir dari satu server ke server computer lainnya melalui jaringan kabel optik yang terpasang di seluruh gedung. Seluruh studio juga terintegrasi satu sama lain sehingga memungkinkan siaran yang simultan.
TVRI
            TVRI merupakan stasiun TV pertama yang ada di Indonesia yang siarannya ditujukan untuk kepentingan negara. Sebelum menjadi Lembaga Penyiaran Publik, pada awalnya TVRI merupakan Lembaga Penyiaran Pemerintah sehingga acara atau program yang ditayangkan oleh TVRI  masih ada campur tangan dari pemerintah. Setelah menjadi Lembaga Penyiaran Publik bukan berarti , pemerintah tidak ada campur tangan dalam acara atau program yang ditayangkan oleh TVRI karena sebagian biaya operasional TVRI masih ditanggung oleh pemerintah.
            Campur tangan pemerintah mempengaruhi budaya perusahaan yang ada di TVRI. Hal tersebut menjadikan TVRi menjadi kurang bisa bersaing dengan stasiun televisi swasta yang ada di Indonesia. Sebagian karyawan TVRI merupakan pegawai negeri sipil, sehingga upah tiap bulan pegawai TVRI masih ditanggung negara. Hal tersebut berakibat pada kinerja karyawan TVRI sendiri dalam membuat sebuah program acara. Mereka beranggapan bagaimanapun kualitas program acara yang mereka buat tidak akan mempengaruhi upah mereka. Hal tersebut mengakibatkan kurang adanya persaingan antar karyawan TVRI sedangkan persaingan dibutuhkan untuk meningkatkan kreativitas para karyawannya. Di TVRI juga tidak ada budaya yang lebih mengedepankan atau meprioritaskan karyawan yang mempunyai kemampuan atau skill lebih dibandingkan dengan karyawan yang lainnya. Berbeda dengan stasiun swasta, di beberapa stasiun TV Swasta jika ada karyawan yang mempunya kemampuan lebih atau berhasil membuat program acara yang kreatif dan berkualitas akan lebih diprioritaskan dan mendapat beberapa keuntungan. Hal tersebut membuat karyawan stasiun TV swasta menjadi akan berlomba-lomba membuat program acara yang berkualitas sehingga berpengaruh kepada citra Stasiun Televisi itu sendiri.Di TVRI, pimpinan perusahaan masih dianggap mempunyai peran utama bagi perusahaan, jadi berhasil atau tidaknya perusahaan tersebut ditentukan oleh pemimpin perusahaan.
PEMBAHASAN
Budaya organisasi dari Transcorp dan TVRI sangatlah berbeda. Jika di Transcorp, mulai dari system perusahaan yang fleksibel dan perekrutan karyawan memang sengaja dipilih yang muda-muda karena anak muda adalah gudangnya kreativitas. Sedangkan TVRI, karena mayoritas karyawannya adalah orangtua dan PNS, maka hal itu berdampak pada kinerja mereka.
Budaya organisasi sangat penting dalam menentukan masa depan organisasi atau perusahaan karena budaya organisasi dapat membangun citra dan reputasi perusahaan tersebut dan akan dikenal oleh masyarakat.
Jika dilihat dari kedua organisasi, Trans lebih mengutamakan unsur apresiasi terhadap karyawannya. Trans akan memberikan apresiasi yang lebih kepada karyawannya yang mampu membuat program ber rating tinggi. Selain berating tinggi, segala upaya dan hasil baik dari suatu program akan menambah nilai tersendiri bagi karyawannya, terutama jika karyawan tersebut mempunyai ide yang cemerlang tentang program tertentu. Sehingga dari hal tersebut dapat menjadi pemicu karyawan untuk berkreativitas tinggi dan bekerja seoptimal mungkin agar instansi mendapat nama baik dan karyawan pun mendapat apresiasi yang baik pula. Pemanfaatan ide-ide anak muda yang muncul dari pribadi-pribadi kreatif yang menjadikan trans sebagai perusahaan media yang bisa dengan mudah diterima masyarakat bahkan programnya sangat dinantikan. Program – program baru dari orang yang berfikiran segar ini yang membuat trans semakin unggul. Budaya untuk mengapresiasi sangat dijunjung tinggi.
Berbeda halnya dengan TVRI yang kurang terlihat apresiasi terhadap karyawannya jika dibandingkan dengan trans. Hal tersebut terlihat dari program apapun yang ditawarkan dan dikelola, karyawan akan mendapat apresiasi yang sama entah program itu baik atau buruk. Hal tersebut yang menjadikan karyawan enggan untuk berkreasi lebih karena walaupun kurang optimal berkreasinya, mereka akan tetap mendapatkan apresiasi yang sama.