Kamis, 02 Juni 2016

Tugas 3 softskil (Pendidikan Kewarganegaraan)

1.  Kronologi penyandraan 10 WNI oleh Abu Sayyaf

Dua kapal pembawa batu bara berangkat dari Sungai Puting, Kalimantan Selatan bertolak ke Filipina Selatan pada tanggal 15 Maret 2016. Ketika melintasi Basilan Island, di mana terdapat beberapa pulau kecil yang tidak sering dilalui oleh petugas patroli, kapal tersebut dikejar oleh para pembajak dengan menggunakan kapal cepat (speedboat). Dengan ukuran kapal yang kecil dan muatan batu bara yang banyak, kapal pengangkut seperti ini sering menjadi sasaran para pembajak di perbatasan-perbatasan negara, dalam hal ini, Filipina.

Para pembajak itu lalu menyandera dua kapal itu beserta awak kapal dengan menggunakan senjata api. Kelompok yang diduga Abu Sayyaf membajak kapal dan menyendera total 14 warga Indonesia dan empat warga Malaysia. Hingga kini, mereka belum dibebaskan.
Mereka (pembajak yang mengaku dari kelompok Abu Sayyaf) lalu menghubungi pemilik kapal untuk meminta uang tebusan sebesar 50 juta Peso (setara dengan 14,2 miliar Rupiah) untuk dipenuhi paling lambat hingga tanggal 31 Maret 2016.

Pihak KBRI Manila mengonfirmasi pembebasan 10 WNI yang disandera oleh kelompok militan Abu Sayyaf adalah murni menggunakan cara negosiasi. Minister Counsellor-Political Affairs KBRI Manila, Eddy Mulya mengatakan proses pembebasan itu pun disebut melibatkan banyak pihak, mulai dari KBRI, TNI hingga pemerintah Filipina.

Berikut kronologi penyekapan berdasarkan tanggal-tanggal nya.

26 Maret 2016 

Dua kapal berbendera Indonesia dibajak oleh kelompok Abu Sayyaf saat sedang berlayar dari Sungai Puting, Kalimantan Selatan menuju ke Batangas, Filipina selatan. Dua kapal yang dibajak itu adalah kapal Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 yang membawa 10 orang awak kapal berkewarganegaraan Indonesia.

29 Mare
t 2016

Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Badrodin Haiti dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo untuk melacak jejak para penyandera dan ke-10 WNI tersebut. TNI juga telah menyiapkan pasukan terbaik mereka untuk terjun ke lokasi setiap saat.

ada tiga pasukan elite yang diterjunkan untuk membebaskan para sandera. Mereka merupakan pasukan terbaik dengan anggota yang benar-benar memiliki kemampuan khusus dan terbaik dari yang terbaik.

31 Mare
t 2016

Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) meyakini operasi pembebasan sandera asal Indonesia yang kini ditawan militan Abu Sayyaf, masih bisa mereka tangani sendiri. Dengan begitu, tawaran bantuan militer Indonesia yang sekarang sudah menyiagakan armada tempur di Tarakan serta Bitung, ditolak secara halus, seperti dilansir inquirer.net.

Militer Filipina memiliki prinsip tersendiri, sehingga sulit mengizinkan pasukan asing terlibat dalam pembebasan sandera itu. "Berdasarkan konstitusi, negara kami tidak mengizinkan adanya pasukan asing tanpa perjanjian khusus," kata juru bicara AFP, Brigadir Jenderal Restituto Padilla saat dihubungi wartawan kemarin.

8 Apri
l 2016

Umar Patek siap membantu pemerintah untuk membebaskan WNI yang disandera Abu Sayyaf. Terpidana kasus terorisme 20 tahun bui itu pun mengaku tanpa pamrih apapun, asalkan persyaratan secara teknis dipenuhi. 

Umar Patek alias Hisyam bin Alizein merupakan asisten koordinator lapangan dalam aksi terorisme Bom Bali Pertama pada tahun 2002. Insiden itu menewaskan 202 orang. Umar Patek disebut-sebut pernah membekali para petinggi militan Abu Sayyaf saat ini dengan pelatihan menggunakan senjata api serta merakit bom.

10 Apri
l 2016

18 Prajurit Filipina tewas dalam operasi pembebasan sandera di Pulau Jolo, Basilan. Mereka tiba-tiba disergap saat dalam perjalanan menuju medan pertempuran. Meski begitu, lima militan berhasil ditembak mati.


12 Apri
l 2016 

Terpukul mundurnya tentara Filipina dalam operasi awal penyelamatan sandera dari tangan Abu Sayyaf akhir pekan lalu tidak melemahkan moral prajurit. Militer Filipina justru kembali menggelar operasi penyergapan lanjutan selama 10 jam pada hari berikutnya sepanjang Minggu (10/4) malam hingga Senin (11/4) dini hari, di lokasi yang sama, menurut keterangan juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina (AFP). Berkat operasi lanjutan itu, dipastikan 13 militan tewas.

15 Apri
l 2016

Pukul 18.31 telah kapal berbendera Indonesia, yaitu kapal tunda TB Henry dan Kapal Tongkang Cristi di perairan perbatasan Malaysia-Filipina kembali dibajak. Kapal tersebut dalam
perjalanan kembali dari Cebu, Filipina menuju Tarakan. Kapal membawa 10 orang ABK WNI. 

Dalam pembajakan kali ini, seorang ABK tertembak. Sementara itu, lima orang berhasil selamat, sedangkan empat lainnya diculik oleh kelompok tersebut.

26 Apri
l 2016

Militan Abu Sayyaf menepati ancaman yang mereka sebar sejak pekan lalu untuk mulai mengeksekusi tiga sandera asing dan satu tawanan asli Filipina. Korban pertama adalah John Ridsdel (68) asal Kanada. Tentara Filipina menemukan kepala pria ini di salah satu pulau kosong kawasan Jolo. Penemuan itu terjadi lima jam setelah tenggat pembayaran tebusan lewat.

29 Apri
l 2016

Militer Filipina mengerahkan pesawat tempur membombardir titik-titik diduga markas militan Abu Sayyaf di pedalaman Pulau Jolo, Provinsi Sulu. Salah satu sandera asal Malaysia, Wong Teck Chi, menghubungi orang tuanya lewat sambungan telepon tiga hari lalu. Dia mengaku dipaksa lari berpindah-pindah tempat nyaris setiap beberapa jam sekali oleh para penculiknya.

Militer Filipina mulai menggempur Pulau Jolo melalui udara sejak dua pekan terakhir. "Kami khawatir, anak saya bercerita bahwa sikap para penculik sekarang semakin beringas setelah serangan udara kian intensif," kata Wong Chie Ming, orang tua Tek Chi, yang tinggal di Kota Sibu, Serawak, Malaysia.

29 Apri
l 2016

Brigadir Jenderal Alan Arrojado yang selama delapan bulan terakhir memimpin Brigade 501 Provinsi Sulu dicopot. Dia digantikan oleh Kolonel Jose Faustino selepas satu sandera asal Kanada dipenggal oleh militan Abu Sayyaf di Pulau Jolo.

Philippine Star melaporkan, Kamis (29/4), Arrojado kabarnya bersitegang melawan atasannya, Mayor Jenderal Gerrardo Barrientos. Mereka adu pendapat soal strategi menekan militan, terkait operasi pembebasan para sandera.

1 Me
i 2016

10 ABK Warga Negara Indonesia telah dibebaskan oleh kelompok militan Abu Sayyaf di daerah Sulu pada Minggu siang hari ini. Polisi wilayah Provinsi Sulu, Wilfredo Cayat mengonfirmasi perihal pembebasan ini.

"Kita infokan ada seorang tidak diketahui menaruh 10 WNI di depan rumah dari Gubernur Sulu (Abdusakur) Toto Tan (II)," kata Cayat, seperti dikutip dari laman the Star, Minggu (5/1).

Presiden Jokowi memastikan 10 WNI tengah malam ini tiba di Lanud Halim Perdanakusuma. Namun sampai saat ini masih ada 4 WNI yang disandera.

2.  Strategi negara dalam penyelesaian masalah

Sebanyak sepuluh anak buah kapal warga negara Indonesia yang disandera kelompok militan Abu Sayyaf akhirnya dibebaskan. Deputi Chairman Media Group Rerie L. Moerdijat mengatakan negoisasi pembebasan dilakukan melalui dialog antara Yayasan Sukma dengan pihak tokoh masyarakat, LSM, lembaga kemanusian daerah Sulu yang memiliki akses langsung ke pihak Abu Sayyaf di bawah koordinasi langsung pemerintah Republik Indonesia.

“Pembebasan dan pelepasan sandera dilakukan sekitar pukul 12.15 di Pantai Parang, Sulu, Mindano Selatan, Filipina,” tulis Rerie dalam keterangan resminya, Ahad, 1 Mei 2016.

Upaya pembebasan dilakukan sejak 23 April 2016. Pendekatan pendidikan dipilih karena sudah ada kerjasama pendidikan antara Yayasan Sukma dan pemerintah otonomi Moro Selatan.

Sandera diserahkan ke tim Indonesia di Pantai Parang lalu dibawa ke rumah Gubernur Zulu selama satu setengah jam, untuk proses verifikasi. Setelah itu, diterbangkan dari Zulu menuju Zambonga menggunakan dua helikopter jenis UH 1 H
.
Sandera tiba di Zambonga sekitar pukul 16.30 waktu setempat. Mereka kembali menjalani verifikasi dan pemeriksaan kesehatan dari tim Filipina. Para ABK ini kemudian diperiksa untuk mengetahui apa saja yang terjadi dan dialami selama masa penyanderaan. Selain itu, mereka diminta untuk mengenali para kelompok Abu Sayyaf lainnya.

Pemerintah Filipina kemudian menyerahkan secara resmi para sandera kepada Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia dan perwakilan dari Partai Nasional Demokrat Victor Laiskodat. Selanjutnya para sandera diterbangkan ke Indonesia dan diserahkan pada pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri di Bandara Halim.

Semula kelompok Abu Sayyaf hendak menculik seorang pengusaha di Pulau Tawi-tawi, Filipina Selatan, tapi gagal lantaran pengawalan yang ketat. Dalam perjalan pulang ke arah Utara, kelompok Abu Sayyaf pimpinan Tawing Umair berpapasan dengan Kapal Brahma 12. Para sandera dititpkan di tempat aman milik kelompok Abu Sayyaf pimpinan Al Habsy.

Presiden Joko Widodo mengatakan meski 10 sandera telah bebas, pemerintah Indonesia masih berupaya membebaskan empat ABK WNI yang lainnya. Pemerintah pun berencana mengadakan pertemuan dengan Malaysia dan Filipina pada 5 Mei mendatang guna membahas keamanan di perairan perbatasan dan wilayah sekitarnya.


Dalam keterangan pers di Istana Bogor, presiden Jokowi mengatakan pembebasan 10 WNI dilakukan atas kerja sama berbagai pihak, terutama pemerintah Filipina.
“Saya ingin menyampaikan terimakasih dan penghargaan kepada semua pihak, kepada seluruh anak bangsa yang membantu upaya pembebasan ini baik yang formal dan informal. Ucapan terimakasih terutama saya tujukan kepada pemerintah Filipina, tanpa kerja sama yang baik, upaya pembebasan tersebut tidak akan membuahkan hasil yang baik,” jelas Jokowi.
Sepuluh orang WNI yang merupakan Anak Buah Kapal (ABK) tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12, yang dirompak milisi Abu Sayyaf di perairan Tawi-tawi, Filipina Selatan, ketika berlayar dari Kalimantan Selatan menuju Filipina, pada 26 Maret lalu.
Sebelumnya, Kelompok Abu Sayyaf meminta uang tebusan sebesar 50 juta peso atau sekitar 14,3 milliar. Dalam keterangan beberapa waktu lalu, Menlu Retno MArsudi mengatakan tidak akan membayar tebusan, tetapi menko Polhukam sempat mengatakan kepada media bahwa uang tebusan sudah disiapkan.
Tetapi dalam keterangan pers tidak disebutkan apakah pemerintah atau perusahaan pemilik kapal membayar uang tebusan tersebut.

Diplomasi total
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan upaya pembebasan yang melibatkan semua pihak bukan hanya antar pemerintah Indonesia dan Filipina saja, merupakan bentuk diplomasi total.
“Ini merupakan diplomasi total bukan hanya fokus G to G tetapi melibatkan jaringan informal yang pernah kita sampaikan semua komunikasi semua jaringan kita buka semua opsi kita buka dengan tujuan mengupayakan keselamatan WNI kita,” kata Retno.


Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan TNI juga terlibat dalam operasi intelejen ini dibawah koordinasi kemenlu.
Sepuluh ABK diperkirakan akan tiba di Jakarta pada Minggu tengah malam.
Dalam keterangan pers, Presiden mengungkapkan pemerintah bersama dengan berbagai pihak juga masih berupaya untuk membebaskan empat orang ABK WNI lainnya.
Empat orang WNI lainnya yang disandera kelompok militan di Filipina Selatan ini, merupakan ABK kapal tunda TB Henry dan kapal tongkang Cristi yang disandera sejak 15 April lalu belum berhasil dibebaskan.
Kedua kapal itu disandera dalam perjalanan kembali dari Cebu Filipina menuju Tarakan, Kalimantan Utara. Lima orang berhasil lolos dari upaya penyanderaan.
Kelompok militan di beberapa kali melakukan penyanderaan kapal di wilayah perairan Filipina Selatan, bahkan memengal sandera mereka, seperti yang dialami oleh WN Kanada beberapa waktu lalu.
Presiden Jokowi mengatakan Menteri Luar Negeri dan Panglima TNI akan membahas masalah keamanan di wilayah perbatasan itu dengan mitranya dari Malaysia dan Filipina pada 5 Mei mendatang.

3.  Pendapat Saya jika terjadi kejadian yang sama lagi diwaktu mendatang. Apa yang harus dilakukan pihak negara kita ?

Pemberontakan seperti ini sudah banyak dan beragam kasusnya. untuk kasus ini menyangkut warga negara Indonesia. Upaya negara seharusnya memperketat kembali keamanan di Indonesia khusus nya di wilayah terpencil di Indonesia yang jarang dilewati rakyat Indonesia. Biasa nya pemberontakan sering terjadi di wilayah terpencil seperti itu

Tingkatkan kembali keamanan di wilayah perbatasan antar negara. Misal nya di perbatasan laut antara Indonesia dengan negara lain. Biasanya banyak sekali pemberontak serta pencuri hasil kekayaan Indonesia.
Jika ada pendatang yang mencurigakan segera melapor ke TNI atau pihak yang berwajib agar segera diperiksa.

Jika terjadi penyandraan lagi sebaiknya pemerintah cepat membebaskan rakyat nya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Serta pemerintah melakukan diplomasi dengan negara lain apabila sandera dilakukan diluar negeri.

Dalam pembasannya pula jangan bertindak sembrono asalkan sandera cepat selamat. Namun dengan taktik dan stategi yang sudah matang yang sebelumnya dirundingkan terlebih dahulu dengan singkat dan cepat. Agar tidak terjadi kegagalan dalam proses pembebasan. Pihak yang diturunkan juga harus punya kematangan dan kehandalan yang sudah terbiasa melakukannya.

Jika terjadi pertentangan perbedaan pendapat di negara maka pilih lah jalan terbaik. Karna jika tidak segera dilakukan akan membahayakan si sandera. Jika perlu adanya bantuan dari luar negeri lakukan dengan sebaik-baiknya.


 Referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Pembajakan_kapal_kelompok_Abu_Sayyaf_2016
http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-kronologi-lengkap-10-wni-disandera-hingga-dibebaskan-abu-sayyaf.html
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160501_indonesia_wni_sandera_bebsa