3.4. Jelaskan Pengertian Sistem Pengendalian Intern (Internal Control)
Sistem
Pengendalian Intern Menurut Ahli
Mulyadi
menyebutkan bahwa sistem pengendalian intern meliputi struktur organisasi,
metode dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan
organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong
efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijaksanaan manajemen.
Sedangkan
menurut Romney and Steinbart (2003) pengertian pengendalian intern adalah
“Internal Control is the plan of organizations and the method of business use
to safeguard assets, provide accurate and reliable information, promote
and improve operational efficiency, and encourage adherence to prescrib e
managerial policies.
Dari
berbagai definisi diatas dapat dilihat bahwa sistem pengendalian intern
bertujuan untuk :
a.
Menjaga kekayaan organisasi
b.
Memeriksa ketelitian dan keandalan data akuntansi.
c.
Mendorong efisiensi operasional.
d.
Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen
Menurut
tujuannya, sistem pengendalian intern terbagi menjadi dua macam yaitu :
- Pengendalian Intern Akuntansi, meliputi struktur orgnisasi, metode dan ukuran ukuran yang di koordinasikan terutama untuk menjaga kekayaan perusahaan dan mengecek keandalan data akuntansi.
- Pengendalian Intern Administrasi, meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan terutama untuk mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen .
Unsur sistem pengendalian intern.
Untuk
melakasanakan sistem pengendalian intern dalam mencapai tujuan pokok, SPI suatu
perusahaan terdiri dari unsur-unsur berikut :
1.
Struktur yang memisahkan tanggung jawab Fungsional secara tegas.
Struktur
organisasi merupakan kerangka (frame work) pembagian tanggung jawab fungsional
pada unit-unit organisasi yang dibentuk untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan
pokok perusahaan. Pembagiantanggung jawab fungsional dalam organisasi ini
didasarkan pada prinsip-prinsip berikut ini :
- Harus dipisahkan fungsi-fungsi operasi dan penyimpangan dari fungsi akuntansi .
- Suatu fungsi tidak boleh
diberi tanggung jawab penuh untuk melaksanakn semua tahap suatu transaksi.
2. Sistem wewenang dan prosedur
pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, uang,
pendapatan dan biaya.
Dalam
organisasi, setiap transaksi biaya hanya terjadi atas dasar otorisasi dari
pejabat yang memiliki wewenang untuk menyetujui terjadinya transaksi tersebut.
Oleh karena itu, dalam organisasi harus dibuat sistem yang mengatur pembagian
wewenang untuk otorisasi atas terlaksananya setiap transaksi.
3.
Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit organisasi.
Pembagian
weenang tanggung jawab fungsional dan sistem wewenang dan prosedur pencatatan
yang telah ditetapkan tidak akan terlaksana dengan baik jika tidak diciptakan
cara-cara untuk menjamin praktik-praktik yang sehat dalam pelaksanaannya.
Berikut ini cara-cara yang dapat digunakakan oleh perusahaan dalam melaksanakan
praktik yang sehat adalah:
- Penggunaan formulir bernomor urut cetak yang pemakaiannya harus dipertanggung jawabkan oleh yang berwenang.
- Pemeriksaan mendadak (surprised audit) dengan jadwal yang tidak teratur.
- Setiap transaksi tidak boleh dilaksanakan dari awal sampai akhir oleh satu orang atau satu unit organisasi, tanpa ada campur tangan dari orang atau unit organisasi lain.
- Perputaran jabatan (job diskripsion) yang diadakan secara rutin yang akan menghindari persekongkolan para pejabat dalam melaksanakan tugasnya .
- Keharusan mengambil cuti bagi karyawan yang berhak
- Secara periodik diadakan pencocokan fisik kekayaan dengan catatannya, untuk menjaga kekayaan organisasi dan mengecek ketelitian dan keandalan catatan akuntansi
- Pembentukan unit organisasi yang bertugas untuk mengecek efektivitas unsur-unsur SPI yang lain.
4. Karyawan yang mutunya sesuai dengan
tanggung jawabnya.
untuk
mendapat karyawan yang kompeten dan dapat dipercaya, berbagai cara berikut
ditempuh oleh perusahaan :
- Seleksi calon karyawan berdasarkan persyaratan yang dituntut oleh pekerjaannya
- Pengembangan pendidikan karyawan selama menjadi karyawan perusahaan, sesuai dengan tuntutan perkembangan pekerjaannya.
Sistem pengendalian internal yang
efektif
Setiap
perusahaan mempunyai sistem pengendalian yang efektif jika memiliki
karakteristik berikut :
- Personalia yang kompeten, dapat dipercaya, beretika. Para pegawai harus mampu dan dapat dipercaya. Untuk mendapatkan pegawai yang kompeten, perusahaan dapat memberikan gaji yang tinggi, perusahaan dapat memberikan pelatihan agar mereka dapat mengerjakan pekerjaannya dengan baik, dan mengawasi pekejaan mereka
- Tugas pertanggungjawaban, tiap pegawai mempunyai tanggung jawab tertentu, karena semua tugas telah didefinisikan dengan jelas dan ditugaskan kepada masing-masing individu yang bertanggung jawab untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut .
- Pemberian kuasa yang tepat, suatu organisasi biasanya mempunyai aturan tertulis yang memuat prosedur pengesahan, setiap penyimpangan dari kebijakan standar membutuhkan pemberian kuasa dengan tepat .
- Pembagian tugas, Manajemen yang cerdas akan membagi pertanggungjawaban atas transaksi satu atau beberapa orang atau departemen. Pembagian tugas akan mebatasi kemungkinan terjadinya kesalahan dan juga memberikan ketepatan catatan akuntansi. Ada empat komponen penting dari sistem pengendalian ini,adalah:
- Pemisahan antara tugas operasional dengan akuntansi.
- Pemisahan antara pertanggungjawban aktivita dengan akuntansi .
- Pemisahan antara pemberian atas transaksi dengan penanggungjawaban aktiva yang bersangkutan .
- Pemisahan tugas kewajiban didalam fungsi akuntansi .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar